Hujan turun lembut, menyapa bumi dengan bahagia. Panaskan hati, matahari berbisik sayu, Lalui hari dengan cerita yang terukir indah. Namun, dari langit, tetesan hujan memercik, Melukis pelangi, membasuh sejuta impian. Panas dan hujan, tarian alam yang serasi, Bagai dua jiwa yang bersatu dalam irama. Sinar hangat dan tetesan dingin bersatu, Hari ini hujan datang sangat deras Tapi tidak ada pelangi. Mengapa akhir-akhir ini aku sering membayangkan diriku adalah hujan Dan kamu adalah pelangi. Iya, aku adalah hujan yang deras yang selalu jatuh berkali-kali tanpa peduli seberapa sakitnya yang ku alami Sedangkan kamu sebagai pelangi yang selalu ditunggu saat hujan reda Pelangi biasanya bentuk busur melingkar berwarna-warni. Pelangi yang disebabkan oleh sinar matahari selalu muncul di bagian langit yang berhadapan langsung dengan matahari . Pelangi bisa berbentuk lingkaran penuh. Namun, pengamat biasanya hanya melihat busur yang dibentuk oleh tetesan cahaya di atas tanah, [1] dan berpusat pada garis dari Jika pelangi yang kerap kau lukis di ujung rindu kini tak pernah kembali. Aku bisa apa? Jika hujan tak lagi membuat warna dari sepercik sisa cahaya yang kucuri sebelum gulita menutup mata semesta. Aku melukismu dalam kisahku, pun aku yang ada dalam goresan tintamu. Namun, aku dan engkau tak pernah menulis bersama--tentang rasa, tentang kita Pelangi Bratarini tidak tahu harus sampai kapan dia akan bertarung dengan trauma yang sudah 4 tahun memenjaranya. Dia akan kalah telak hanya dengan melihat sabuk, tali tambang, dan seragam satpam. Di tengah pertarungannya itu, datang Hersya Gaelan, mantan pacar Pelangi saat masa SMA. Pada umumnya, pelangi terdiri dari tujuh warna yang terlihat jelas: merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Keindahan kombinasi warna-warna ini menghipnotis dan menarik perhatian siapa pun yang melihatnya. Dalam puisi tentang pelangi, penyair mencoba menangkap keajaiban dan pesona ini melalui kata-kata. .

puisi hujan dan pelangi